that precious thing called family

"Paman, kerabatku sakit keras. Ayahku telah memintaku pulang. Tapi besok pagi aku ditugaskan oleh Bapak Ketua untuk memimpin prosesi upacara kebudayaan. Ini penting sekali untukku."

"Dan mengapa pula itu penting sekali buatmu?"

"Ini adalah kali pertama aku diberi amanat sebesar itu, Paman. Merupakan sebuah kehormatan besar bagiku untuk memenuhi panggilan itu."

"Wahai Bujang, dengarkan cerita Paman.”

“Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami-istri yang sudah lama menikah. Mereka memiliki segalanya: harta, cinta dan kehormatan di kalangan mereka. Tetapi ada satu hal yang belum mereka miliki: mereka tidak kunjung punya anak. Setelah melewati tujuh tahun, akhirnya mereka memutuskan untuk mengangkat dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Lengkaplah kehidupan mereka.”

“Beberapa tahun terlewat, mereka melupakan kemalangan yang mereka alami sebelum mereka mengangkat anak. Namun tak dinyana, sang istri kemudian mengandung. Maka gemparlah seluruh penduduk kampung itu. Termasuk kepala adat di kampung mereka yang terkenal dengan ilmu hitamnya. Dia sengaja datang pada keluarga tersebut untuk meramal masa depan bayi yang bahkan belum dilahirkan. Kepala adat tersebut menyatakan bahwa bila mereka ingin anak mereka tumbuh dengan selamat, maka sejak lahir anak itu harus dipisahkan dari orang tuanya dan tinggal bersama kerabat jauh sampai kira-kira seperlima abad. Dengan berat hati, akhirnya mereka menuruti apa kata kepala adat tersebut.”

“Dua puluh tahun berlalu, anak tersebut tumbuh menjadi pemuda pemberani yang ahli berkuda dan berperang. Sang kerabat rupanya membesarkan anak itu dengan baik. Lalu tibalah saatnya pemuda tersebut pulang kepada keluarga kandungnya. Sang kerabat menceritakan semua peristiwa yang berkaitan dengan pengasingan pemuda itu. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan menutup mata hati pemuda tersebut sehingga dia justru murka mendengar cerita dari kerabatnya. ‘Bagaimana mungkin orang tua tega membuang anak kandungnya sendiri?’ begitu pikirnya. Dengan menghunus pedang, dia segera memacu kudanya menuju kampung tempat orang tuanya tinggal. Sesampainya di tempat tinggal mereka, pemuda tersebut langsung menyerbu dan meneriaki orang tua kandung dan kakak-kakak angkatnya. Karena sudah mengira akan hal seperti ini, ayah pemuda tersebut menjelaskan kisah mereka dengan tenang. Tetapi pemuda tersebut justru membentak dan membentak, bahkan menuding kakak-kakak angkatnya sebagai pencuri harta yang seharusnya dinikmatinya sebagai anak kandung. Karena terlanjur gelap mata, akhirnya sang pemuda menusuk dada ayahnya sendiri dengan pedang. Di saat itu lah dia tersadar dan menyesali perbuatannya. Karena saking takutnya, dia langsung mundur dan memacu kudanya pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan dia menangis dan bersumpah akan mengabdikan dirinya sebagai ksatria kerajaan sampai dia menemukan kedamaian.”

“Tahun demi tahun berlalu, pemuda tersebut tetap tidak menemukan kedamaian dalam hatinya. Seringkali dia tidak bisa tidur di malam hari karena dihantui oleh dosa pembunuhannya. Dia berpikir, ‘mungkin bukan ini tempatku’. Maka dia berkelana lagi untuk menemukan kedamaian, tetapi hal itu pun tidak kunjung dia temukan. Sampai akhirnya dia sadar dan teringat akan keluarga yang ia tinggalkan. Maka dengan menguatkan hati, dia memutuskan untuk menghadapi masa lalunya dan menerima resiko atas kembalinya ia, meskpun itu artinya dia akan dihukum mati oleh penduduk di kampungnya atas dosa membunuh saudara mereka.”

“Sesampainya di tempat tinggal keluarganya, dia langsung sujud bersimpuh mencium kaki ibunya sambil memohon maaf. Betapa kagetnya ia ketika ibunya memeluknya erat, begitu pula dengan saudara-saudara angkatnya. ‘Dengan nafas terakhirnya, Ayah meminta kita untuk memaafkanmu, nak. Karena kami pun juga bersalah atas pembuanganmu. Kami benar-benar minta maaf, saat itu kami telah berusaha menolak perintah kepala adat tersebut, tetapi kami tidak kuasa karena dia adalah tetua yang sangat dihormati oleh penduduk kampung ini. Menentangnya sama saja mencari mati sebab dia begitu ditakuti. Kami khawatir akan keselamatanmu bila kau tetap kami rawat di sini bersama kami’. Begitulah sang ibu pemuda itu menceritakan dengan penuh isak tangis. Dengan suara bergetar, pemuda tersebut bertanya kepada ibunya, ‘di mana kepala adat itu sekarang, Bu? Aku ingin menebas lehernya atas keputusannya yang membuatku hidup terpisah dengan keluargaku sendiri’. ‘Dia sudah mati nak. Dia sudah mati berkalang tanah dibunuh oleh seorang yang belum pernah kami lihat wajahnya. Siapapun orang itu, kami sangat berterima kasih padanya’, jawab ibu sang pemuda.”

“Setelah itu, pemuda tersebut akhirnya tinggal bersama keluarganya dan di saat itu lah dia menemukan apa yang dicari-carinya selama ini: kedamaian.”


“Begitu lah Bujang, tidak peduli siapapun kau, keluarga tetap harus kaunomorsatukan. Karena tanpa orang-orangmu di sana, mungkin kau bukan apa-apa. Tapi tanpa keluargamu, kau tidak akan jadi siapa-siapa. Ingat itu, wahai Bujang.”
.
.
.
.
.
.

Comments

Popular posts from this blog

To Fight and Strive Together

Just some Random Thoughts