parenting done right (?)

Tuhan tidak pernah menciptakan makhluknya serupa sama sekali.

Begitu pula dengan cara orang tua kita mendidik kita. Ini berkaitan dengan budaya, suku, dan kondisi sosial dan ekonomi, tetapi pada dasarnya, kesimpulannya tetap satu: lain ladang lain belalang.

Keluarga saya merupakan keluarga besar, dengan 8 anak di tahun 2000 saja. Alhasil, orang tua saya tidak punya cukup waktu untuk mengawasi semua anak-anaknya secara mendetail atau bahkan mengatur kami dengan peraturan yang ketat. Well, sebenarnya peraturan di keluarga kami cukup ketat: tidak boleh tidur malam sebelum sikat gigi, tidak boleh menonton TV terlalu dekat, tidak boleh baca komik sambil tiduran apalagi gelap-gelap. Dalam hal pergaulan, orang tua kami mendidik kami untuk berhati-hati dengan laki-laki. Tidak boleh pacaran, itu jelas. Tapi mereka tidak pernah melarang kami untuk bermain bersama mereka. Maka sering sekali kami (aku dan 5 kakak-kakakku, 4 di antaranya perempuan) bermain di halaman rumah kami bersama anak-anak laki-laki yang sekampung, entah itu bermain cendak ndodhok, ingkling, gobag sodor, dan lain-lain. Atau bahkan pergi ke luar bermain layangan bersama mereka. Kami bisa jaga diri, orang tua kami tahu itu. Dan mereka juga percaya pada teman laki-laki kami (orang tua kami juga saling kenal wong bertetangga).

Selain itu, orang tua kami tidak pernah melarang kami pulang larut malam. Tiap anak perempuan di keluarga kami, setidaknya sampai nomor urut 6 alias saya, pernah melewati fase sering pulang malam-malam, mostly karena urusan ekstrakurikuler di sekolah. Dan orang tua kami fine-fine saja tuh. Saya ingat ibu saya sering mengatakan "kamu terserah kalau mau pulang malam. Tapi ingat, pulang sendiri. Jangan ngerepotin."

WOW.

Kalau dipikir-pikir, jahat juga ya.
Tapi kami justru senang diperlakukan demikian.
Artinya kami dipercaya oleh orang tua kami.
What could we ask for?

Yah tapi tentu saja, seperti yang saya bilang, lain ladang lain belalang. Sudah berkali-kali saya ditanya oleh kawan, "kamu nggak papa po pulang jam segini?" dan mereka tercengang ketika saya bilang "nggak papa, santai". If I could read minds, I would surely have laughed so hard they had to cover their ear lol.

Comments

Popular posts from this blog

To Fight and Strive Together

Just some Random Thoughts