To Fight and Strive Together
Hari ini sungguh melelahkan.
Lari-lari, naik-turun tangga, menghadap bos karyawan akademik, ditegur wakil dekan, bertemu dosen pembimbing, fotokopi ini-itu, ramai-ramai mengantri di loket pembayaran transfer, bertemu teman-teman, sahabat, dan memperjuangkan seorang kawan.
Masih ingat tulisanku sebelumnya yang berjudul 'Ah, Failure'? Hari ini juga aku dihadapkan pada konsekuensi yang mewajibkan aku untuk mewujudkan komitmen. Komitmen untuk menepati janji yang kubuat sendiri. Hari ini aku melaksanakan tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa dengan jumlah kegagalan melebihi angka yang dia anggap bisa ditanggungnya. Ditambah dengan adanya tragedi kecil berujung panjang tentang kawanku yang tidak bisa mengikuti remidi karena suatu alasan. Jadilah kami semacam laskar kecil yang membawa misi advokasi untuk memperjuangkan kawan kami yang apabila tidak berhasil maka kami akan tidak bersama-sama lagi dalam satu dan lain hal. Kami tertunduk saling merasa bersalah karena kecelakaan yang dialami kawan kami begitu hebat efeknya terhadap kebersamaan kami dan fakta bahwa kami masing-masing punya andil dalam kecelakaan itu sungguh sangat mengguncang dan tidak terhindarkan, membuat kami termenung (kurang lebih begitu). Kami berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan apa yang kami inginkan tetapi apa daya kami tak memiliki cukup alasan untuk itu dan jujur saja, air mata tidak membantu sama sekali.
Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tapi jelas, aku menganggap kami terlalu egois dan sok tahu (bukankah kata-kata 'kupikir dia...' mengandung unsur ke-sok tahu-an?). Masing-masing dari kami begitu. Tetapi sudahlah, itu tidak penting lagi. Yang kami tahu, ada yang salah dengan pertemanan ini. Semoga kami tahu apa yang harus kami lakukan setelah ini, amin. :)
Lari-lari, naik-turun tangga, menghadap bos karyawan akademik, ditegur wakil dekan, bertemu dosen pembimbing, fotokopi ini-itu, ramai-ramai mengantri di loket pembayaran transfer, bertemu teman-teman, sahabat, dan memperjuangkan seorang kawan.
Masih ingat tulisanku sebelumnya yang berjudul 'Ah, Failure'? Hari ini juga aku dihadapkan pada konsekuensi yang mewajibkan aku untuk mewujudkan komitmen. Komitmen untuk menepati janji yang kubuat sendiri. Hari ini aku melaksanakan tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa dengan jumlah kegagalan melebihi angka yang dia anggap bisa ditanggungnya. Ditambah dengan adanya tragedi kecil berujung panjang tentang kawanku yang tidak bisa mengikuti remidi karena suatu alasan. Jadilah kami semacam laskar kecil yang membawa misi advokasi untuk memperjuangkan kawan kami yang apabila tidak berhasil maka kami akan tidak bersama-sama lagi dalam satu dan lain hal. Kami tertunduk saling merasa bersalah karena kecelakaan yang dialami kawan kami begitu hebat efeknya terhadap kebersamaan kami dan fakta bahwa kami masing-masing punya andil dalam kecelakaan itu sungguh sangat mengguncang dan tidak terhindarkan, membuat kami termenung (kurang lebih begitu). Kami berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan apa yang kami inginkan tetapi apa daya kami tak memiliki cukup alasan untuk itu dan jujur saja, air mata tidak membantu sama sekali.
Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tapi jelas, aku menganggap kami terlalu egois dan sok tahu (bukankah kata-kata 'kupikir dia...' mengandung unsur ke-sok tahu-an?). Masing-masing dari kami begitu. Tetapi sudahlah, itu tidak penting lagi. Yang kami tahu, ada yang salah dengan pertemanan ini. Semoga kami tahu apa yang harus kami lakukan setelah ini, amin. :)
Comments
Post a Comment