It's Time For Movies! #2

Hi, seperti yang aku janjiin sebelumnya (sebenernya aku nggak janjiin apa-apa), akan ada lanjutan dari post ini. Well, sebenernya cuma karena di situ tertulis #1 makanya aku nulis yang #2.

Soooo, kemarin (beberapa jam yang lalu sih--tapi tetep aja 'kemarin' kan?) aku habis maraton nonton film. Padahal ini masih jaman-jaman UAS untuk anak FKG UGM. Dan, yah, you know lah, aku sih ethel aja. Toh masih ada hari Minggu kan? :p *jangan ditiru ya, guys.




But my friends didn't.



Yah, mau gimana lagi? Hehe.

Anyway, mungkin kalian heran kenapa di antara sekian judul film di atas ada satu judul yang bisa dikategorikan sebagai film lawas. Yep, that's it, 17 Again.

Image source

So, dulu banget, waktu aku masih, errr, SMP (atau SMA), aku udah nonton tu film. With no subtitles. Oh man, abstrak banget waktu itu. Sepanjang film aku cuma bisa bengong . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Nggak juga sih.

But still, aku nggak begitu ngerti apa yang diomongin sama Mark Gold alias Michael O'Donnell (Zac Efron) waktu dia nge-bully Stan di kantin. Dan aku nggak begitu paham kenapa si Maggie O'Donnell nangis di tribun. Aku tau plot kisahnya kayak apa, tapi aku nggak ngerti apa yang mereka omongin. Sama aja bohong kan?

Dan sekarang (kemarin), ketika aku lagi mbathang se-mbathang-mbathang-nya, aku inget film itu dan kemudian memutuskan untuk menontonnya kembali. Dan setelah muter-muter cari link download yang bisa diandalkan, finally kemarin pagi aku sukses men-download tu film dari indowebster [buat yang bikin: THANKS THANKS THANKS! x)] dengan susah payah--I mean it, susah payah, soalnya butuh waktu lamaaaaaaak bangetsz sampe akhirnya selesai. (--,)9 Untung aja nggak ada damage di file-nya. :')

Dan kemudian aku nonton. Dan aku terharu. Yellyeah, that's the cutest movie-about-dad I have ever watched. :') And I'm totally agree with Mark's expression about free-sex before married in the health class.

"No, you know what? He's right. I don't need one (condom). Why? Want to know why I don't need one? Because there's no one I'm in love with. It's called making love, isn't it? Maybe I'm old fashioned, but I think that means you do it with someone you love. And preferably when you're married. You know when you're ready to take that love and turn it into a baby. Because that's what love is. 
"It's that first moment when you hold your baby girl. And you didn't know anything could be that small and delicate, and you feel that tiny heartbeat that you couldn't love anything more in the whole world. And you hope you can do right for that little girl. And always be there to catch her when she falls and that nothing ever hurts her. Not a broken arm, or a bad dream, or a broken heart."
 Itu... sesuatu banget. Walaupun mungkin pada kenyataannya nggak ada remaja Eropa yang bisa ngomong kayak gitu, but I assure you it is pretty awesome that the scriptwriter wanted to tell such moral message to everyone that, that not everyone in the western countries put the same way misguided perspective upon sex before married. (Mind my grammar please)

Overall, meskipun nggak buagus banget, tapi filmnya amat menyentuh dan pesan moralnya tersampaikan dengan sangat baik.

Comments

Popular posts from this blog

To Fight and Strive Together

Just some Random Thoughts