Iniquity


"Dont judge a book by its cover".
Itu pepatah yang sangat amat sangat populer. Semua orang pasti pernah denger. Tetapi yang ingin aku omongin di sini adalah, bahwa pepatah itu nggak cuma bener tapi bener banget dan dalem luar biasa. Kenapa?

Well, beberapa tahun belakangan ini, aku bener-bener menghayati apa yang dimaksud dengan pepatah tersebut. Mencoba mengerti, memahami, dan menerapkan pepatah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Building a new perspective. Perspektif yang adil, yang dapat diterapkan ke semua orang di lingkungan sekitarku. Begitu juga dengan aku sendiri. Aku jadi mulai nggak peduli sama tampilan luarku, dan mencoba membangun karakter yang lebih baik dan bermartabat. Seolah-olah aku teriak ke orang-orang, 'kamu kalo mau nge-judge aku, deketin aku dulu. There's a lot more in me, I assure you, that you'd never figure out until you really know me.'

Begitu juga dengan saudara-saudaraku dan teman-temanku. (Okay, we're now getting into the main point)

Pernah suatu saat ada temanku, sebut saja Lisa, main ke rumah sebelum dia nebengin aku ke sekolah. Ketika kami beranjak pergi, datanglah kakak perempuanku dengan mengendarai motor boyo alias Satria.

Lisa melihatnya dan berkata, "itu motor Mbak, ya?"

Kata kakakku, "bukan kok, ini titipan temen." Ya, sepertinya menurut teman-temannya, kakakku punya wajah yang cukup meyakinkan sampe-sampe rumahku suka mendadak jadi tempat penitipan motor-anak-kos-yang-sedang-pulang-kampung. -_-

Lisa tersenyum, "Oooh, kirain punya Mbak".

Begitu kakak perempuanku masuk rumah, Lisa berkata, "kirain itu punya Kakakmu, Nad."

"Loh emang kenapa?", kataku

"Ya mendes banget laaah kalo sampe kayak gitu. Satria lho Satria". (Mendes adalah singkatan dari mental ndeso untuk perempuan yang kampungan atau semacamnya)

Aku cuma diem.

Kemudian di hari lain, aku diantar kakakku ke sekolah dengan motor Satria itu untuk mengikuti acara buka bersama. Setibanya di sekolah, aku bertemu dengan salah seorang temanku, sebut saja Nisa, dan aku dikejutkan dengan perkataan Nisa, "ya ampun, kakakmu mendes banget Naaaaad."

Aku tercenung. Yang aku tau, aku dapat satu hal waktu itu:: ternyata, menurut sebagian orang, cewek dengan motor satria (dan sejenisnya) bisa dikategoriin sebagai cewek mendes.

Yaelah, emang kalo itu beneran punya kakakku terus kenapa? Sebenernya yaudah sih Lis, toh malah keren kali, cewek bisa pake motor kopling. Kenapa pikiran kamu sempit banget sih? Dan Nis, Kamu bahkan belum kenal sedikitpun sama kakakku tapi kamu sudah berani menilai bahwa dia itu mendes. You don't even freakin' know her, at all. Bagaimana mungkin--eh, maksudku, mana boleh kamu menilainya seperti itu? Hanya karena kamu melihat kakakku mengendarai motor Satria, kemudian kamu menilainya sebagai cewek mendes?

Well, that really hurts, girl. Nggak adil, pula. Emang kamu tau dalam kesehariannya kakakku kayak gimana? Udah berapa tahun kamu tinggal satu atap sama dia? Kok kamu bisa menilai dia seperti itu? Nggak adil, ndes, itu bener-bener nggak adil. Bahkan aku yang udah 16 tahun hidup sama dia aja still trying to figure her personality out. Masih nyari tau aku harus gimana kalo berurusan dengan dia. Masih mencoba menilai dia itu tipe orangnya kayak apa dan gimana cara menghadapi orang seperti dia. Dan mencoba mengenali lebih dalam tentang dia--prestasinya, caranya berbicara, perangainya, kesemuanya. And I guess it needs a lot more time to figure it all out. To know her verily.

Dan itu nggak gampang.

So, singkatnya, untuk mengakhiri postku yang udah agak nyeleneh ini, aku mau bilang aja ke semua orang,

Kalo kamu mau menilai orang, buka dulu cover depannya, baca pendahuluannya, kemudian Bab 1, Bab 2, Bab 3, seterusnya sampai titik paling bawah di cover belakang. Baru kemudian kamu boleh menilai dia dari apa yang kamu baca.

Untuk kalian yang merasa disinggung, maaf ya, aku nggak benci kalian kok, aku cuma sebel sama perbuatan kalian. Peace! ;)




Sometimes the angel you know is the worst of all.


Comments

Popular posts from this blog

To Fight and Strive Together

Just some Random Thoughts