Anger here, anger there. Anger now, anger then.

Emosi membuncah beraduk-aduk bersama pilu kesinisan yang tiada bayang, tiada akhir, menjadi kemarahan.....
...lalu bagaimana jika kemarahan dilangkahi secara kurang ajar oleh waktu? Bolehkah ia memburu haknya meskipun dalam diam?
Dalam senyap kadang ia memandang jauh ke arah langit, meminta pertolongan, membelakangi kesenduannya sendiri untuk dihargai dalam riak gelombang. 'Tentu akan hebat', dia memprotes; jeritnya tertahan, terjepit di antara kegilaan untuk membalaskan dendam kepada kabut yang menutupi sempitnya akal. Tentu... sorak sorai, applause yang meriah, semuanya bisa saja ia dapatkan. Dengan nafas memburu dia mengetuk dan menggedor pertahanan iman.
Tetapi habis sudah ia terlampaui kembali oleh dentangan bel, dipukul jarum jam bertalu-talu......waktu untuk kemarahan sudah kerontang.
Habis sudah dia dalam kemenangan sejati.

Comments

Popular posts from this blog

To Fight and Strive Together

Just some Random Thoughts