menjadi elitis, sebuah keniscayaan

[OPINI]

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya kita membaca opini salah satu teman kita yang imut, nunu, dari FISIPOL, yang kemudian menjadi referensi saya dalam menulis.

"Mengenai elit dan egaliter.
Akan capek pikiran jika kita menuntut solidaritas buta dari massa. Sebuah solidaritas tidak bisa diartikan hanya dengan kehadiran fisik atau solidaritas melalui media sosial. Keduanya sama-sama mereduksi solidaritas itu sendiri. Solid secara material bisa diartikan dengan kehadiran massa yang banyak. Tapi pada tingkat tertentu, konsep tersebut akan menemui kondisi dimana massa tidak akan benar-benar hadir untuk menjadi solid. Kondisi tersebut adalah ketika solidaritas bertemu dengan asas keterwakilan.Keterwakilan tersebut terjadi baik disengaja maupun tidak kemudian akan membentuk 'elit' yang belum tentu elitis. Pun tidak membawa nama gerakan apapun atau lembaga apapun, menjadi elit memang sudah menjadi wajar. Se inklusif apapun gerakan itu, massa sudah terlalu membebankan kepentingan mereka terhadap kelompok itu. Solidaritas yang terwujud adalah sebatas dukungan moral baik langsung maupun via media sosial. Lebih-lebih sebatas masukan pemikiran terhadap salah satu aktor di kelompok tersebut."

Nah, sekarang giliran saya.

Bergerak dan menjadi elit tanpa harus elitis terkadang menjadi sebuah keniscayaan.

Karena pada akhirnya bung, membangun solidaritas tidaklah semudah membentuk formasi bendera merah putih meskipun melibatkan sedikitnya sembilan ribu orang. Tidak, karena perjuangan bukanlah sebatas seremonial belaka. Bahkan di tataran belasan orang, dimana koordinasi seharusnya berlangsung jauh lebih mudah dan efektif, seringkali kita mendapati kita berjuang "sendirian". Seringkali kita mendapati orang-orang yang bergerak bersama kita hanya itu-itu saja, atau jika menggunakan bahasa kekinian, "Lo lagi lo lagi". Pada stadium ini, kata "kita" dapat berubah kapan saja menjadi "kalian". Dan di sudut ruang yang lain, kata "kalian" lalu berubah menjadi "mereka".

Fenomena partisipasi yg rendah ini, jika ditilik asal muasalnya, tidak selalu karena asas keterwakilan berfungsi jauh melebihi yang seharusnya dimana yang (merasa) diwakili kelewat percaya (atau tawakal, dalam kasus tertentu) pada yang mewakili (baca: dipasrahi), tetapi boleh jadi karena yang (merasa) diwakili tidak merasa menghadapi masalah yg sama.

Maka kemudian fenomena "lo lagi lo lagi" ini seringkali menjadi faktor resiko terhadap symptom berikutnya yaitu mencuatnya ketidakpuasan terhadap output pengawalan isu. Padahal jika kita telusur dari hulu ke hilir (lagi), ketidakpuasan ini bukan hanya disebabkan oleh ketidakmampuan dlm memenuhi harapan, tapi boleh jadi karena ekspektasi yg diberikan terlalu tinggi. Karena setinggi apapun effort yang kita berikan untuk menatalaksakan keluhan publik, jika prognosisnya buruk maka hampir dapat dipastikan tidak akan berhasil sepenuhnya. Tentu saja, akan selalu ada perkecualian dalam tiap hal--yang dipicu hal-hal suprarasional seperti keberuntungan dan keajaiban. Tapi kita tidak akan membicarakan itu, bukan?

Bagaimanapun, seandainya kita sampai menjustifikasi secara sembarang mereka yg tidak pernah berpartisipasi (ataupun berpartisipasi namun begitu pasif, begitu samar) sebagai kaum apatis, maka justru kita lah yg dipertanyakan. Apakah benar mereka memang apatis? Atau kita yg sudah bertransformasi terlalu jauh menjadi elit?

Yah, pada akhirnya, hanya Tuhan yang tahu apa yang bersembunyi di balik dengungan pemikiran-pemikiran yang tengah berkecamuk di kepalamu, kepalaku, kepala kita.

Semoga sampai akhir, kata "kita" akan terus bertahan.



Comments

Popular posts from this blog

To Fight and Strive Together

Just some Random Thoughts