Gift
Believe it or not, I actually have a certain fondness in writings and I think I, once, had some nice skill in it. But it was loooong loooooong ago when I was like eight and still fresh-minded. I wrote a few storiettes but sadly none was actually finished. Nah, at that time I was such a great-starter, not a finisher.
Tapi sekarang, setelah ikut talkshow kepenulisan bareng benzbara dan raditya dika, tiba-tiba aku jadi kepikiran, oiya ya. Kenapa aku nggak nulis-nulis lagi? Padahal nulis tuh rasanya asiiik banget. Damai gitu.
Alhamdulillah, aku udah bisa menghasilkan sebuah cerpen yang ehm, kalo dipikir-pikir ternyata mayan menye juga haha. Walaupun cuma kepikiran endingnya, tapi mendinglah daripada nggak ada karya sama sekali.
Here we go.
Kami bertatapan.
''...bolehkah aku memelukmu sekali saja?''
''.......''
''sekali saja. Setelah itu nggak akan ada lagi-----''
''ssssh. Please don't. Nggak usah. Nanti aku yang nggak mau ngelepas....''
Kami tersenyum. Aku berusaha mengingat tiap detail mata indah itu karena mungkin setelah ini kami tidak akan bertemu lagi. Layaknya ending dramatis kisah cinta anak muda yang pasaran lagi klasik.
''.....lagian nanti kayak di sinetron-sinetron tuh, biasanya endingnya tokoh cewek sama cowok berpelukan terus pisah gitu...''
Lalu kami tertawa terbahak.
Kadang hidup memang konyol dan di saat itu kita (kebetulan) sedang butuh sesuatu untuk ditertawakan. Lalu kita menertawakan keadaan.
''Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan berusaha terbiasa hidup tanpa sms atau ngechat kamu tiap hari. Aku akan berusaha terbiasa lagi hidup tanpa ngestalk facebook kamu dan berusaha cari tahu barangkali kamu berusaha ngode-ngode aku dengan mempost lirik-lirik lagu''.
Aku tersenyum padanya. Ah, andai dia tahu aku juga melakukan hal yang sama.
''jangan alay''
''aku nggak alay. You are''.
Kami tertawa lagi. Mungkin tawa yang terakhir.
Sementara itu, jauh di dalam, seorang perempuan muda berteriak memohon pada Tuhan agar Dia mau mengentikan waktu.
Agar momen ini bertahan selama mungkin.
Agar matahari tidak jadi tenggelam.
Agar hari tidak jadi gelap.
Dan sebaiknya hari esok, hari dimana kami akan benar-benar terpisah ruang dan waktu, tidak usah datang.
Gimana? Menye kan? Haha. Maaf deh, cuma itu yang kepikiran.
Doain bisa bikin kaarya-karya selanjutnya ya. Dan semoga karya selanjutnya nggak menye-menye lagi haha.
Comments
Post a Comment