Kita dan Tuhan
Terkadang saya berpikir,
betapa mudah kita menuhankan suatu hal yang sifatnya duniawi----ya, selain Tuhan.
Lisan kita mungkin akan menjawab--bila ditanya--bahwa ya, Tuhan kita adalah Dia Sang Pencipta.
Tapi pada kenyataannya, seberapa jauh kita berusaha untuk menuhankan Tuhan?
Orang (yang mengaku) islam pasti berkata ''Allah lah Tuhan kami''
Tapi mengapa panggilan Allah sering kalah dengan suara notifikasi media sosial atau suara dering telepon genggam?
Jangan salah sangka.
Saya beragama Islam. Mungkin (dan sepertinya memang), saya bukanlah seorang muslimah yang taat. Saya sadar akan hal itu. Tapi saya sedikit banyak tahu hukum Islam dan saya tahu benar bahwa dalam hadits nabi berkali-kali ditekankan, wahai manusia, takutlah kalian pada Allah dan taatlah kepada-Nya.
Tapi saya pun menyadari sepenuhnya bahwa 'usaha' saya untuk takut pada Tuhan masih sangat, sangat, sangat kurang.
Sekali lagi jangan salah sangka. Saya tidak bermaksud sombong dengan mengatakan bahwa untuk takut pada Tuhan butuh 'usaha'. Saya hanya tidak ingin munafik. Berapa kali Anda memutuskan untuk tetap melakukan suatu hal yang Anda tahu dan sadar sepenuhnya bahwa hal itu mendatangkan dosa? Anda tahu--walaupun mungkin tidak sadar-- bahwa pada saat itu, malaikatNya tengah mengintai Anda. Jangankan di tempat terbuka, di tempat setertutup apa pun malaikatNya tetap sanggup mengawasi Anda.
Dan Anda tahu benar akan hal itu.
Tapi Anda tetap melakukannya.
Hal seperti itulah kira-kira yang saya lakukan selama ini. Sampai sekarang, suara notification line dari laptop saya masih saja menghalangi saya untuk segera memenuhi panggilanNya. Saya tahu bahwa Tuhan sangat pencemburu. Saya tahu Tuhan ingin selalu dinomorsatukan, dan saya tahu bahwa Tuhan mau saya segera meninggalkan semua aktivitas--apapun itu--untuk kemudian mengambil air wudhu dan mendirikan sholat.
Tapi tidak, saya belum bisa. Saya ingin, tapi saya, sampai sekarang, belum bisa.
Semoga Tuhan memudahkan jalan saya dan Anda semua.
13 November 2014
betapa mudah kita menuhankan suatu hal yang sifatnya duniawi----ya, selain Tuhan.
Lisan kita mungkin akan menjawab--bila ditanya--bahwa ya, Tuhan kita adalah Dia Sang Pencipta.
Tapi pada kenyataannya, seberapa jauh kita berusaha untuk menuhankan Tuhan?
Orang (yang mengaku) islam pasti berkata ''Allah lah Tuhan kami''
Tapi mengapa panggilan Allah sering kalah dengan suara notifikasi media sosial atau suara dering telepon genggam?
Jangan salah sangka.
Saya beragama Islam. Mungkin (dan sepertinya memang), saya bukanlah seorang muslimah yang taat. Saya sadar akan hal itu. Tapi saya sedikit banyak tahu hukum Islam dan saya tahu benar bahwa dalam hadits nabi berkali-kali ditekankan, wahai manusia, takutlah kalian pada Allah dan taatlah kepada-Nya.
Tapi saya pun menyadari sepenuhnya bahwa 'usaha' saya untuk takut pada Tuhan masih sangat, sangat, sangat kurang.
Sekali lagi jangan salah sangka. Saya tidak bermaksud sombong dengan mengatakan bahwa untuk takut pada Tuhan butuh 'usaha'. Saya hanya tidak ingin munafik. Berapa kali Anda memutuskan untuk tetap melakukan suatu hal yang Anda tahu dan sadar sepenuhnya bahwa hal itu mendatangkan dosa? Anda tahu--walaupun mungkin tidak sadar-- bahwa pada saat itu, malaikatNya tengah mengintai Anda. Jangankan di tempat terbuka, di tempat setertutup apa pun malaikatNya tetap sanggup mengawasi Anda.
Dan Anda tahu benar akan hal itu.
Tapi Anda tetap melakukannya.
Hal seperti itulah kira-kira yang saya lakukan selama ini. Sampai sekarang, suara notification line dari laptop saya masih saja menghalangi saya untuk segera memenuhi panggilanNya. Saya tahu bahwa Tuhan sangat pencemburu. Saya tahu Tuhan ingin selalu dinomorsatukan, dan saya tahu bahwa Tuhan mau saya segera meninggalkan semua aktivitas--apapun itu--untuk kemudian mengambil air wudhu dan mendirikan sholat.
Tapi tidak, saya belum bisa. Saya ingin, tapi saya, sampai sekarang, belum bisa.
Semoga Tuhan memudahkan jalan saya dan Anda semua.
13 November 2014
Comments
Post a Comment