Anterior Satu
Summer has come.
Diana berlari kecil di antara pepohonan yang merayu setiap orang untuk, katakanlah, berteduh sejenak dari gempuran hujan yang luruh mengguntur. Ini bagus, karena tidak akan ada yang tahu betapa sungai kecil telah mengalir di bawah kantung matanya. Dia berlari terus, terus, dan berhenti tepat di bawah pohon yang paling besar. Bukan, dia bukannya lelah. Dia hanya tidak tahu lagi cara lari dari kenyataan.
Kemarin Rio mengajaknya pergi ke suatu tempat. Tapi dia tidak menjawabnya--'ya' tidak, 'tidak' pun tidak. Padahal Diana tahu, kemana lagi Rio mengajaknya pergi kalau bukan ke tempat itu, di mana Rio memperdengarkan senandungnya untuk Diana seorang.
"Ya".
"Ajak aku ke tempat ini tiga bulan dari sekarang. Aku butuh waktu".
"Tiga bulan? Haruskah selama itu?"
"Tiga bulan atau tidak sama sekali".
Diana tersenyum aneh. Rio melihatnya, cukup yakin bahwa dia tidak tertipu matanya sendiri. Dia telah memperhatikan Diana selama sekian tahun, dan selama itu belum pernah dia melihat senyuman macam ini. Hampir, pikirnya. Bagaimanapun, selama sepersekian detik, dia merasa tidak mengenal Diana sama sekali. Entah barangkali ada yang salah dengannya, atau dengannya. Entahlah. Tapi tiga bulan adalah waktu yang lama bahkan untuk memusingkan jawaban dari Diana.
Barangkali dia hanya perlu bersabar. Karena barangkali dia akan menemukan jawabannya. Barangkali.
Diana berlari kecil di antara pepohonan yang merayu setiap orang untuk, katakanlah, berteduh sejenak dari gempuran hujan yang luruh mengguntur. Ini bagus, karena tidak akan ada yang tahu betapa sungai kecil telah mengalir di bawah kantung matanya. Dia berlari terus, terus, dan berhenti tepat di bawah pohon yang paling besar. Bukan, dia bukannya lelah. Dia hanya tidak tahu lagi cara lari dari kenyataan.
***
Tiga tahun sinar itu bertahan di dadaku
Dua tahun aku menyangkalnya.
Tetapi satu saja alasan yang membuatnya
tetap tinggal di celah hatiku: engkau.Waktu itu Diana hanya bisa membisu. Tidak ada kembang api, tidak ada letupan kebahagiaan. Dia memejam, tolong. Hentikan ini. Tapi semuanya mendadak hitam.
"Ya".
"Ajak aku ke tempat ini tiga bulan dari sekarang. Aku butuh waktu".
"Tiga bulan? Haruskah selama itu?"
"Tiga bulan atau tidak sama sekali".
Diana tersenyum aneh. Rio melihatnya, cukup yakin bahwa dia tidak tertipu matanya sendiri. Dia telah memperhatikan Diana selama sekian tahun, dan selama itu belum pernah dia melihat senyuman macam ini. Hampir, pikirnya. Bagaimanapun, selama sepersekian detik, dia merasa tidak mengenal Diana sama sekali. Entah barangkali ada yang salah dengannya, atau dengannya. Entahlah. Tapi tiga bulan adalah waktu yang lama bahkan untuk memusingkan jawaban dari Diana.
Barangkali dia hanya perlu bersabar. Karena barangkali dia akan menemukan jawabannya. Barangkali.
***
Dulu, Rio selalu menyapa Diana setiap pagi. Setidaknya bila mereka bertemu.
Comments
Post a Comment