Missing The Old Times
Hai, udah lama nggak nongol. Missing me, guys? Well, I hope so.
Ini pukul satu dini hari, dan pada saat-saat beginilah biasanya aku jadi termenung. Pikiranku tertarik kepada pusat gravitasi mesin waktu-- pada situasi di masa lalu: waktu yang sudah lama terlewat, masa-masa yang mengambang di pikiran. Aku merasa limbung. Barangkali inilah puncak bukit kekosonganku. Titik nadir yang terletak di atas beban-beban yang menekan, di atas ekspektasi, di atas tuntutan. Dan di atas samudra memori yang terpecahbelah--bahkan benang yang paling kusut pun tiada lagi membandingi.
Lelah? Iya.
Tapi bukan saatnya.
Masih tertarik pada gravitasi mesin waktu, aku dipaksa mengenang kembali skenario masa lalu. Adegan yang biasanya terlewat begitu saja, nggak peduli berapa ratus kali aku melakukannya.
Biasanya aku melalui hari ditemani beberapa novel impor. Eragon, Harry Potter, Eragon lagi, Harry Potter lagi. Atau... novel remaja. Khas generasi muda, dimana permasalahan terbesar selalu saja soal cinta. Dengan bumbu perselisihan, persaingan, atau bahkan persahabatan. Tapi aku nggak pernah bosan.
Mmm, ketika novel nggak di tangan, pasti konsentrasiku sedang bersumbu pada monitor. Apa yang kulakukan? Bisa apa saja. Menulis artikel, menghias blog, menonton film, atau bahkan hal-hal remeh seperti mendengarkan musik. Musik apa saja. Pop, upbeat, reggae, rock, heavy metal, apa saja.
Bosan? Tidak. Mana mungkin?
Lain waktu, aku menulis puisi. Tentang apa saja. Cinta, persahabatan, kebencian, kenaifan, lelucon, bahkan ironi. Kemudian men-save-nya dalam folderku pada komputer keluarga. Kemudian membaca ulang puisi-puisi lamaku. Lalu tertawa, terbahak. Aku membatin, 'betapa begonya aku dulu'.
Menyesal? Tak akan.
Di lain kesempatan, aku menulis cerpen. Mostly about friendship. Aku masih inget ketika duduk di bangku SD, diam-diam aku ngeluarin buku yang ku khususkan untuk menulis cerpen--dan mini novel. Not to be boastful, tapi dulu aku kreatif banget. Tanya kakak keempatku tentang novelku yang berjudul Alina-Alini. Dia pasti ingat. Bener-bener deh, cerita itu udah panjang banget sampe mau kuterbitin. Iyakali bukan saatnya, jadi nggak kesampean deh.
Dan sekarang? Nihil.
Aku berhasil masuk dan (alhamdulillah,) survive di sebuah sekolah yang amat prestisius di Kota Pelajar ini. Apa yang bisa dibanggain dengan itu. Wah, banyak. Tiap kali ditanya "sekolah dimana?", selalu ada pundi-pundi kebanggaan masuk dalam kantong kepalaku. Membuatnya jadi berat dan macet. Tapi dimana ada keistimewaan, selalu ada konsekuensi yang mengintip di baliknya.
Aku jadi nggak pernah lagi nulis di blog, baca novel, nulis puisi, dan segala macam hal lainnya. Aku terkungkung dalam kebanggaan. Lupa segalanya.
Alhasil, sering ada saat dimana aku ngerasa lelah, bosan, dan menyesal sekaligus. What could I do then?
Nulis artikel? Nggak ada ide. Nulis puisi? Apalagi. Baca novel? Terlalu malas.
Yah, itulah alasan mengapa aku publish tulisan ini.
I miss those old times.
Semoga ini bukan jadi tulisan terakhirku. Amin.
Ini pukul satu dini hari, dan pada saat-saat beginilah biasanya aku jadi termenung. Pikiranku tertarik kepada pusat gravitasi mesin waktu-- pada situasi di masa lalu: waktu yang sudah lama terlewat, masa-masa yang mengambang di pikiran. Aku merasa limbung. Barangkali inilah puncak bukit kekosonganku. Titik nadir yang terletak di atas beban-beban yang menekan, di atas ekspektasi, di atas tuntutan. Dan di atas samudra memori yang terpecahbelah--bahkan benang yang paling kusut pun tiada lagi membandingi.
Lelah? Iya.
Tapi bukan saatnya.
Masih tertarik pada gravitasi mesin waktu, aku dipaksa mengenang kembali skenario masa lalu. Adegan yang biasanya terlewat begitu saja, nggak peduli berapa ratus kali aku melakukannya.
Biasanya aku melalui hari ditemani beberapa novel impor. Eragon, Harry Potter, Eragon lagi, Harry Potter lagi. Atau... novel remaja. Khas generasi muda, dimana permasalahan terbesar selalu saja soal cinta. Dengan bumbu perselisihan, persaingan, atau bahkan persahabatan. Tapi aku nggak pernah bosan.
Mmm, ketika novel nggak di tangan, pasti konsentrasiku sedang bersumbu pada monitor. Apa yang kulakukan? Bisa apa saja. Menulis artikel, menghias blog, menonton film, atau bahkan hal-hal remeh seperti mendengarkan musik. Musik apa saja. Pop, upbeat, reggae, rock, heavy metal, apa saja.
Bosan? Tidak. Mana mungkin?
Lain waktu, aku menulis puisi. Tentang apa saja. Cinta, persahabatan, kebencian, kenaifan, lelucon, bahkan ironi. Kemudian men-save-nya dalam folderku pada komputer keluarga. Kemudian membaca ulang puisi-puisi lamaku. Lalu tertawa, terbahak. Aku membatin, 'betapa begonya aku dulu'.
Menyesal? Tak akan.
Di lain kesempatan, aku menulis cerpen. Mostly about friendship. Aku masih inget ketika duduk di bangku SD, diam-diam aku ngeluarin buku yang ku khususkan untuk menulis cerpen--dan mini novel. Not to be boastful, tapi dulu aku kreatif banget. Tanya kakak keempatku tentang novelku yang berjudul Alina-Alini. Dia pasti ingat. Bener-bener deh, cerita itu udah panjang banget sampe mau kuterbitin. Iyakali bukan saatnya, jadi nggak kesampean deh.
Dan sekarang? Nihil.
Aku berhasil masuk dan (alhamdulillah,) survive di sebuah sekolah yang amat prestisius di Kota Pelajar ini. Apa yang bisa dibanggain dengan itu. Wah, banyak. Tiap kali ditanya "sekolah dimana?", selalu ada pundi-pundi kebanggaan masuk dalam kantong kepalaku. Membuatnya jadi berat dan macet. Tapi dimana ada keistimewaan, selalu ada konsekuensi yang mengintip di baliknya.
Aku jadi nggak pernah lagi nulis di blog, baca novel, nulis puisi, dan segala macam hal lainnya. Aku terkungkung dalam kebanggaan. Lupa segalanya.
Alhasil, sering ada saat dimana aku ngerasa lelah, bosan, dan menyesal sekaligus. What could I do then?
Nulis artikel? Nggak ada ide. Nulis puisi? Apalagi. Baca novel? Terlalu malas.
Yah, itulah alasan mengapa aku publish tulisan ini.
I miss those old times.
Semoga ini bukan jadi tulisan terakhirku. Amin.
well, nice post, keep writing mblo!
ReplyDeleteThanks mblo. Semoga predikat jomblo mu nggak berlangsung lama ya. :*
Delete